Pertanyaan ini cukup sering muncul, terutama dari teman-teman yang baru tahu bahwa waktu kecilnya belum sempat diaqiqahi oleh orang tua.
Biasanya mereka bertanya,
“Apakah saya boleh (atau bahkan wajib) mengaqiqahi diri sendiri sekarang, di usia dewasa?”
Menariknya, topik ini memang sering jadi perbincangan di kalangan umat Islam.
Sebagian bilang boleh, sebagian bilang tidak perlu — jadi wajar kalau banyak orang bingung.
Nah, di artikel ini kita bahas dengan sederhana dan jelas: bagaimana pandangan para ulama tentang aqiqah untuk diri sendiri di usia dewasa, dan apa langkah yang bijak kalau kamu ingin melakukannya.
Pandangan Para Ulama tentang Aqiqah untuk Diri Sendiri
Secara umum, para ulama berbeda pendapat soal boleh atau tidaknya seseorang mengaqiqahi dirinya sendiri setelah dewasa.
- Pendapat Pertama: Tidak Perlu Aqiqah Lagi
Sebagian besar ulama dari mazhab Syafi’i dan Maliki berpendapat bahwa kalau seseorang belum diaqiqahi ketika kecil, maka tidak wajib dan tidak perlu melakukan aqiqah untuk diri sendiri setelah dewasa.
Alasannya sederhana: tanggung jawab aqiqah itu ada pada orang tua, bukan pada si anak. Jadi kalau orang tua tidak sempat melakukannya, anak tidak menanggung dosa. - Pendapat Kedua: Boleh Aqiqah untuk Diri Sendiri
Sebagian ulama seperti Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin berpandangan bahwa boleh bahkan baik jika seseorang ingin mengaqiqahi dirinya sendiri ketika dewasa — sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.
Mereka berdalil dari riwayat (walau lemah) bahwa Rasulullah pernah mengaqiqahi dirinya sendiri setelah diutus menjadi Nabi. Walau hadis itu lemah, para ulama sepakat bahwa selama niatnya baik dan bukan menganggap itu wajib, maka melaksanakan aqiqah untuk diri sendiri tetap berpahala.
Kesimpulannya:
➡️ Tidak ada kewajiban untuk aqiqah diri sendiri.
➡️ Tapi kalau ingin melakukannya karena niat baik dan rasa syukur kepada Allah, boleh banget.
Kapan dan Bagaimana Cara Melakukannya?
Kalau kamu memutuskan untuk melakukan aqiqah sendiri saat dewasa, tidak ada waktu khusus yang ditetapkan dalam syariat.
Boleh kapan saja, selama kamu sudah mampu secara finansial dan niatnya tulus untuk menjalankan sunnah.
Berikut panduan sederhananya:
- Niat yang Ikhlas
Niatkan aqiqah sebagai bentuk syukur kepada Allah, bukan karena gengsi atau ikut-ikutan.
Tidak perlu niat khusus di lisan, cukup di hati: “Saya niat aqiqah untuk diri saya sendiri karena Allah Ta’ala.” - Jumlah Hewan Sesuai Sunnah
Tetap disunnahkan dua ekor kambing untuk laki-laki dan satu ekor kambing untuk perempuan, sebagaimana ketentuan umum aqiqah. - Pilih Waktu yang Tepat dan Lancar Secara Rezeki
Jangan memaksakan diri. Aqiqah dilakukan saat kondisi memungkinkan — karena Islam tidak memberatkan. - Distribusi Daging atau Nasi Kotak
Kamu bisa memasak dan membagikannya sendiri, atau lebih praktisnya, gunakan layanan aqiqah profesional seperti Kaffah Aqiqoh, yang siap bantu dari pemilihan kambing, penyembelihan, sampai penyaluran ke yatim dan dhuafa.
Dengan begitu, kamu bisa fokus pada ibadah dan rasa syukur, bukan repotnya urusan dapur.
Baca juga: Hukum Aqiqah dalam Islam, Wajib Kah?
Kesimpulan: Aqiqah Diri Sendiri, Nggak Wajib Tapi Boleh dan Berkah
Singkatnya, tidak ada kewajiban untuk mengaqiqahi diri sendiri di usia dewasa, karena tanggung jawab aqiqah ada pada orang tua.
Tapi kalau kamu ingin melakukannya sebagai bentuk rasa syukur dan ingin meneladani sunnah Rasulullah ﷺ, maka boleh — dan berpahala.
Intinya, jangan jadikan ini beban. Lakukan dengan ringan hati, sesuai kemampuan, dan niat tulus karena Allah.
Dan kalau kamu ingin menjalankan aqiqah dengan cara yang mudah, amanah, dan tanpa ribet,
Kaffah Aqiqoh siap bantu dari awal sampai akhir — mulai dari pemilihan kambing, proses penyembelihan sesuai syariat, pengolahan masakan, sampai penyaluran ke yatim dan dhuafa.
👉 Hubungi Kaffah Aqiqoh sekarang, dan wujudkan ibadah aqiqah yang penuh makna — tanpa repot, tanpa bingung, tetap sesuai sunnah.
Karena ibadah yang baik itu bukan yang paling ramai, tapi yang paling ikhlas dan kaffah.

