Menjelang tibanya hari raya Idul Adha, para orang tua yang baru saja dikaruniai buah hati sering kali dihadapkan pada sebuah dilema yang cukup menguras pikiran: harus mendahulukan aqiqah untuk si kecil atau ikut berqurban? Pertanyaan ini sangat wajar muncul ke permukaan, mengingat keduanya adalah ibadah mulia yang sama-sama melibatkan penyembelihan hewan dan memiliki nilai spiritual yang mendalam. Memilih salah satu di antaranya tentu membutuhkan pemahaman yang jernih agar ibadah yang kita jalankan terasa tenang dan penuh keberkahan tanpa ada rasa mengganjal di hati.
Sebagai orang tua, kita pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anak sekaligus menunaikan perintah agama dengan sempurna. Namun, realita di lapangan seperti keterbatasan anggaran atau waktu pelaksanaan yang berdekatan sering kali memaksa kita untuk menyusun skala prioritas. Memahami landasan hukum dari para ulama mu’tabar akan membantu Anda mengambil keputusan yang paling tepat, sesuai dengan kondisi kantong dan koridor syariat yang berlaku saat ini.
Artikel ini akan mengupas tuntas mana yang sebaiknya didahulukan antara aqiqah dan qurban. Dengan merujuk pada pendapat kuat dari empat madzhab besar, Anda akan dipandu secara sistematis untuk menentukan langkah terbaik. Mari kita bedah satu per satu agar rencana ibadah Anda berjalan lancar dan mendatangkan rida Allah SWT.
Memahami Perbedaan Mendasar Aqiqah dan Qurban
Definisi dan Tujuan Aqiqah
Secara bahasa, aqiqah memiliki arti memotong atau membelah. Dalam istilah syariat, aqiqah merupakan penyembelihan hewan (kambing atau domba) sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas lahirnya seorang anak. Ibadah ini memiliki filosofi yang sangat indah, yakni sebagai simbol penebus gadai bagi sang bayi. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih tepat pada hari ketujuh kelahirannya.
Pelaksanaan aqiqah juga menjadi momen hangat untuk memperkenalkan anggota keluarga baru kepada kerabat dan tetangga. Dengan membagikan daging yang sudah diolah menjadi masakan lezat, aqiqah secara otomatis mempererat tali silaturahmi dan menumbuhkan jiwa berbagi sejak dini atas nama sang anak. Harapannya, ini menjadi doa yang tulus agar si kecil tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan bermanfaat bagi banyak orang.
Definisi dan Tujuan Qurban
Qurban atau Udhiyah adalah penyembelihan hewan ternak tertentu yang dilakukan pada hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyrik. Tujuan utamanya adalah untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT, mengenang keteguhan hati Nabi Ibrahim AS, serta berbagi kebahagiaan dengan kaum fakir miskin. Qurban adalah ibadah tahunan yang memiliki dimensi sosial sangat kuat karena dagingnya dibagikan dalam kondisi mentah agar penerima bisa mengolahnya sesuai kebutuhan.
Berbeda dengan aqiqah yang sifatnya personal dan berkaitan dengan kelahiran individu, qurban sangat terikat dengan momentum waktu tertentu dalam kalender Hijriah. Qurban adalah simbol pengorbanan harta dan penundukan ego manusia untuk patuh pada perintah Sang Pencipta. Ibadah ini menjadi syiar Islam yang sangat ditekankan bagi setiap muslim yang memiliki kelapangan rezeki saat Idul Adha tiba.
Waktu Pelaksanaan Masing-masing Ibadah
Waktu paling afdal untuk aqiqah adalah pada hari ketujuh setelah bayi lahir. Jika belum memungkinkan, bisa digeser ke hari ke-14 atau ke-21. Namun, mayoritas ulama berpendapat bahwa kesunnahan aqiqah (bagi yang mampu) tetap berlaku hingga anak mencapai usia baligh. Setelah anak dewasa, kewajiban orang tua secara otomatis gugur, dan anak diperbolehkan mengaqiqahi dirinya sendiri jika ia menginginkannya.
Sebaliknya, qurban memiliki jendela waktu yang sangat sempit dan kaku. Pelaksanaannya hanya sah dilakukan mulai setelah shalat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah (akhir hari Tasyrik). Jika penyembelihan dilakukan di luar waktu yang telah dipatok tersebut, maka nilainya bukan lagi qurban, melainkan hanya sembelihan atau sedekah biasa.
Hukum Mendahulukan Aqiqah atau Qurban Menurut Madzhab Syafi’i
Pandangan Umum Madzhab Syafi’i
Dalam lingkungan Madzhab Syafi’i, yang banyak dianut di Indonesia, baik aqiqah maupun qurban hukumnya adalah Sunnah Muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Imam Syafi’i memandang kedua ibadah ini sebagai dua perintah yang berdiri sendiri, masing-masing punya sebab dan tujuan yang berbeda. Oleh sebab itu, idealnya seorang muslim yang punya rezeki berlebih sebaiknya melaksanakan keduanya tanpa harus memilih.
Namun, jika kondisi dompet hanya cukup untuk satu ekor hewan saja, Madzhab Syafi’i memberikan panduan yang cukup fleksibel. Fokus utamanya adalah melihat mana ibadah yang waktunya bersifat momentum atau akan segera habis. Keputusan diambil dengan mempertimbangkan kemaslahatan dan ketepatan waktu yang sudah digariskan oleh syariat.
Skala Prioritas Berdasarkan Waktu
Jika waktu kelahiran anak berdekatan dengan Idul Adha, Madzhab Syafi’i cenderung menyarankan untuk mendahulukan qurban. Logikanya sederhana: waktu qurban sangat terbatas, hanya empat hari dalam setahun. Jika Anda melewatkan momen Idul Adha ini, Anda harus menunggu setahun penuh untuk bisa berqurban lagi. Sementara itu, aqiqah punya rentang waktu yang jauh lebih longgar dan bisa dilakukan kapan saja di luar hari raya.
Dengan mendahulukan qurban, Anda sudah menunaikan ibadah yang bersifat musiman. Setelah hari raya berlalu dan ada rezeki baru yang mengalir, Anda bisa segera melaksanakan aqiqah untuk sang buah hati. Pendekatan ini memastikan tidak ada satu pun syiar Allah yang terlewatkan hanya karena keterbatasan teknis di satu waktu tertentu.
Ketentuan Jika Dana Terbatas
Bagi keluarga dengan dana yang pas-pasan, Madzhab Syafi’i menekankan bahwa tidak ada paksaan dalam menjalankan ibadah sunnah. Namun, jika harus memilih karena desakan ekonomi, melihat kemaslahatan adalah kunci utamanya. Jika anak baru lahir dan Anda merasa aqiqah adalah bentuk tanggung jawab moral yang paling mendesak sebagai orang tua, maka mendahulukan aqiqah pun tetap diperbolehkan dan insya Allah tetap berpahala besar.
Penting untuk dicatat bahwa dalam pandangan Syafi’iyah, tidak ada dosa bagi mereka yang meninggalkan ibadah sunnah ini jika memang benar-benar tidak mampu. Ibadah harus dijalankan dengan rasa tenang dan tanpa beban hutang yang mencekik. Syariat Islam hadir untuk memudahkan, bukan untuk menyulitkan hamba-Nya dalam mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Perspektif Madzhab Hanafi, Maliki, dan Hambali
Pendapat Madzhab Hanafi tentang Kewajiban Qurban
Madzhab Hanafi memiliki sudut pandang yang lebih tegas. Menurut Imam Abu Hanifah, qurban hukumnya adalah Wajib bagi setiap muslim yang merdeka, mukim (tidak sedang bepergian jauh), dan memiliki kekayaan yang sudah mencapai nishab. Karena sifatnya yang wajib bagi yang mampu, maka qurban harus diprioritaskan di atas aqiqah yang menurut mereka hukumnya hanya mubah atau sunnah biasa.
Jika Anda mengikuti pendapat Madzhab Hanafi dan tergolong orang yang mampu secara finansial saat Idul Adha, maka mengalokasikan dana untuk qurban adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar lagi. Mengabaikan qurban saat mampu dianggap berdosa dalam pandangan madzhab ini, sehingga urusan aqiqah sebaiknya digeser ke waktu lain.
Pandangan Madzhab Maliki Terhadap Aqiqah
Dalam Madzhab Maliki, aqiqah dipandang sebagai sunnah yang sangat dianjurkan, namun mereka punya aturan yang cukup ketat soal waktu. Menurut mereka, aqiqah hanya disyariatkan tepat pada hari ketujuh kelahiran. Jika hari ketujuh sudah lewat, maka kesunnahan aqiqah dianggap gugur. Jadi, jika hari ketujuh kelahiran si kecil jatuh tepat di hari raya qurban, mereka menyarankan aqiqah tetap dilakukan di hari itu.
Namun secara umum, Madzhab Maliki tetap melihat qurban sebagai syiar yang sangat besar. Jika seseorang harus memilih antara qurban tahunan dengan aqiqah yang sudah lewat hari ketujuhnya, maka qurban menjadi pilihan yang jauh lebih utama. Ketelitian dalam mengikuti waktu ini menjadi ciri khas Madzhab Maliki agar ibadah benar-benar sesuai dengan tuntunan asal.
Sikap Madzhab Hambali dalam Memilih Prioritas
Madzhab Hambali memiliki kemiripan dengan Madzhab Syafi’i, di mana aqiqah dan qurban sama-sama sunnah muakkadah. Namun, Imam Ahmad bin Hambal memberikan kelonggaran yang menarik terkait penggabungan niat. Dalam beberapa riwayat, Madzhab Hambali membolehkan seseorang yang ingin berqurban sekaligus meniatkannya untuk aqiqah jika waktunya memang berbarengan.
Meskipun diperbolehkan, para ulama Hambali tetap menyarankan untuk memisahkan keduanya jika memang mampu, demi menjaga kehati-hatian (khuruj minal khilaf). Jika dana hanya cukup untuk satu, mereka akan melihat kondisi individu. Jika qurban adalah kesempatan langka yang hanya datang setahun sekali, maka qurban sering kali diprioritaskan demi menjaga syiar Islam di tengah masyarakat.
Kondisi Finansial dan Skala Prioritas Ibadah
Mengukur Kemampuan Ekonomi Keluarga
Langkah pertama dalam menentukan prioritas adalah melakukan audit keuangan keluarga secara jujur. Islam tidak pernah membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Jika setelah memenuhi kebutuhan pokok seperti pangan, sekolah, dan cicilan, Anda memiliki kelebihan dana yang hanya cukup untuk satu ekor kambing, maka di sinilah Anda harus memilih berdasarkan skala prioritas syariat.
Gunakan data keuangan terbaru untuk memproyeksikan pendapatan Anda di bulan-bulan mendatang. Jika Anda memperkirakan akan ada bonus atau rezeki tambahan setelah Idul Adha, mendahulukan qurban adalah pilihan bijak karena waktunya terbatas. Namun, jika kondisi ekonomi sedang tidak menentu, pilihlah ibadah yang paling membuat hati Anda merasa tenang dan tentram saat melaksanakannya.
Menilai Urgensi Waktu Pelaksanaan
Urgensi waktu adalah faktor penentu yang sangat logis dalam fiqih. Qurban hanya punya jendela waktu sekitar 96 jam dalam setahun. Di sisi lain, aqiqah punya jendela waktu yang sangat lapang, bahkan hingga bertahun-tahun menurut sebagian ulama. Secara sistematis, mendahulukan hal yang bersifat “sekarang atau tunggu tahun depan” (qurban) lebih masuk akal dibanding hal yang bisa dilakukan “sekarang atau bulan depan” (aqiqah).
Pertimbangkan juga usia buah hati Anda. Jika anak sudah hampir baligh dan belum diaqiqahi, mungkin urgensi aqiqah menjadi sedikit lebih tinggi untuk menunaikan tanggung jawab orang tua sebelum masanya habis. Namun untuk bayi yang baru lahir, menunda aqiqah beberapa minggu demi mengejar keutamaan qurban adalah langkah yang banyak disarankan oleh para ahli fiqih kontemporer.
Tips Mengatur Anggaran Ibadah
Agar tidak terjebak dalam dilema yang sama setiap tahun, mulailah merencanakan anggaran ibadah sejak jauh-jauh hari. Berikut adalah langkah sistematisnya:
- Menabung Rutin: Alokasikan dana khusus setiap bulan, meski sedikit, khusus untuk qurban dan aqiqah.
- Cari Paket Hemat: Pilih lembaga aqiqah atau qurban yang menawarkan harga kompetitif tanpa mengurangi kualitas syariat.
- Bereskan Hutang: Pastikan Anda tidak punya hutang jatuh tempo yang mendesak sebelum memutuskan melakukan ibadah sunnah.
- Diskusi dengan Pasangan: Ajak pasangan berdiskusi untuk menentukan prioritas bersama agar keputusan diambil dengan hati yang lapang.
Bolehkah Menggabungkan Niat Aqiqah dan Qurban?
Pendapat Ulama yang Memperbolehkan
Sebagian ulama, termasuk Imam Ahmad bin Hambal dalam satu riwayat dan sebagian ulama dari kalangan Madzhab Hanafi, membolehkan penggabungan niat aqiqah dan qurban dalam satu hewan sembelihan. Logikanya, kedua ibadah ini memiliki jenis yang sama (menyembelih hewan) dan tujuan yang serupa (mendekatkan diri kepada Allah). Hal ini dianalogikan dengan shalat Tahiyatul Masjid yang bisa digabung dengan shalat fardhu.
Bagi keluarga yang benar-benar kesulitan secara ekonomi namun ingin meraih pahala keduanya, pendapat ini bisa menjadi solusi yang meringankan. Dengan menyembelih satu ekor kambing di hari Idul Adha, mereka meniatkannya sebagai qurban sekaligus aqiqah bagi anaknya. Hal ini dianggap sah dan sudah mencukupi tuntutan syariat menurut kelompok ulama ini.
Pendapat Ulama yang Melarang Penggabungan
Di sisi lain, mayoritas ulama (Jumhur Ulama) dari Madzhab Syafi’i dan Maliki tidak memperbolehkan penggabungan niat tersebut. Alasan utamanya adalah karena aqiqah dan qurban memiliki sebab (sabab) yang berbeda. Aqiqah disebabkan oleh lahirnya anak sebagai penebus (fida’), sedangkan qurban disebabkan oleh masuknya waktu Idul Adha (udhiyah).
Karena keduanya adalah ibadah yang bersifat maqsudah lidzatiha (ibadah yang punya tujuan independen), maka masing-masing harus berdiri sendiri. Menggabungkannya dianggap tidak memenuhi kesempurnaan masing-masing ibadah. Dalam pandangan ini, lebih baik melakukan satu ibadah dengan totalitas daripada melakukan dua ibadah dengan niat yang dicampur adukkan.
Solusi Terbaik Menurut Mayoritas Ulama
Jalan tengah yang paling aman dan menenangkan hati adalah dengan memisahkan keduanya. Jika Anda hanya punya dana untuk satu hewan, pilihlah salah satu yang menurut Anda paling mendesak (biasanya qurban jika tepat di hari raya). Kemudian, di lain waktu saat ada rezeki, laksanakanlah aqiqah dengan hewan yang berbeda.
Langkah ini diambil untuk menghindari perselisihan di antara para ulama dan memastikan ibadah kita benar-benar valid dan sempurna. Melaksanakan ibadah secara terpisah juga berarti lebih banyak daging yang dibagikan, yang artinya lebih banyak manfaat sosial yang tersebar dan lebih banyak doa yang mengalir untuk keluarga Anda.
Panduan Praktis Memilih Jika Waktunya Berdekatan
Analisis Usia Anak dan Hari Tasyrik
Jika anak Anda lahir tepat beberapa hari sebelum Idul Adha, coba hitung hari ketujuhnya. Jika hari ketujuh jatuh pada hari-hari Tasyrik, Anda berada pada momen emas. Namun jika dana terbatas, prioritaskan qurban terlebih dahulu karena ia adalah “tamu tahunan” yang akan segera pergi. Aqiqah anak Anda tetap bisa dilaksanakan setelah hari Tasyrik berakhir atau saat tabungan sudah kembali terkumpul.
Ingat, aqiqah tidak harus mewah. Fokuslah pada esensi penyembelihannya. Jika Anda memilih qurban terlebih dahulu, pastikan Anda tetap punya niat kuat untuk mengaqiqahi anak di kesempatan pertama berikutnya. Niat yang tulus sudah dicatat sebagai kebaikan di sisi Allah SWT, jadi Anda tidak perlu merasa bersalah atau cemas berlebihan.
Pertimbangan Sosial dan Distribusi Daging
Pikirkan juga dampak sosial dari pilihan Anda. Di hari raya Idul Adha, stok daging biasanya melimpah ruah di masyarakat. Jika Anda memaksakan aqiqah di waktu yang sama, distribusi daging mungkin jadi kurang efektif karena orang-orang sudah jenuh mengonsumsi daging.
Melaksanakan aqiqah di luar musim qurban sering kali justru lebih bermanfaat bagi penerima. Daging aqiqah yang dibagikan dalam bentuk masakan siap saji akan sangat dinikmati oleh tetangga atau panti asuhan di hari-hari biasa saat tidak ada pembagian daging massal. Ini adalah pertimbangan etis yang membuat ibadah Anda terasa lebih penuh keberkahan.
Menentukan Keputusan yang Menenangkan Hati
Pada akhirnya, keputusan ada di tangan Anda sebagai kepala keluarga. Berdoalah meminta petunjuk agar diberikan kemantapan hati. Jika Anda merasa lebih tenang mendahulukan aqiqah karena ingin segera menunaikan hak anak, lakukanlah. Jika Anda merasa lebih mantap berqurban karena ingin mengikuti syiar tahunan umat Islam, itu pun sangat baik.
Pastikan apa pun pilihan Anda, dasarnya adalah rasa cinta kepada Allah dan keinginan menjalankan sunnah Rasulullah SAW. Hindari beribadah karena rasa gengsi atau tekanan sosial. Ibadah yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai kemampuan akan membawa ketenangan batin yang luar biasa bagi seluruh anggota keluarga.
Keutamaan Melaksanakan Keduanya Secara Terpisah
Keberkahan untuk Sang Buah Hati
Melaksanakan aqiqah secara khusus memberikan keberkahan tersendiri bagi perkembangan si kecil. Dengan menyembelih hewan khusus untuknya, orang tua secara simbolis telah menyerahkan perlindungan anak kepada Allah SWT. Banyak ulama menyebutkan bahwa aqiqah merupakan salah satu sebab anak tumbuh dengan akhlak yang baik dan terlindungi dari gangguan setan.
Setiap tetes darah hewan aqiqah yang tumpah menjadi saksi atas rasa syukur Anda. Doa-doa yang dipanjatkan saat prosesi aqiqah, baik oleh keluarga maupun penerima daging, menjadi bekal spiritual yang sangat berharga bagi masa depan sang anak. Inilah mengapa aqiqah sering disebut sebagai investasi dunia dan akhirat bagi orang tua.
Pahala Berbagi di Hari Raya Idul Adha
Berqurban di hari raya Idul Adha punya keutamaan yang tidak bisa digantikan oleh ibadah harta lainnya pada waktu tersebut. Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada amal manusia pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah hewan qurban. Tanduk, bulu, dan kuku hewan tersebut akan datang pada hari kiamat sebagai saksi pahala Anda.
Pahala qurban juga mencakup pahala memberi makan orang miskin dan memperkuat ikatan ukhuwah islamiyah. Dengan berqurban, Anda ikut serta dalam kegembiraan massal umat Islam di seluruh dunia. Semangat berbagi ini akan mendatangkan keberkahan pada harta Anda dan menjadi pembersih dari sifat kikir.
Dampak Spiritual bagi Orang Tua
Bagi orang tua, menjalankan kedua ibadah ini—meski tidak bersamaan—adalah latihan ketaatan yang luar biasa. Ia mengajarkan kita untuk melepaskan sebagian harta demi meraih cinta Sang Pencipta. Kedisiplinan dalam menabung dan merencanakan ibadah akan membentuk karakter muslim yang bertaqwa dan terorganisir dengan baik.
Ketenangan yang dirasakan setelah menunaikan kewajiban dan sunnah agama adalah nikmat yang tak ternilai harganya. Anda akan merasa lebih yakin dalam mendidik anak karena merasa telah menjalankan tuntunan agama dengan sebaik-baiknya. Dampak spiritual ini akan tercermin dalam keharmonisan rumah tangga yang tenang dan penuh keberkahan.
Langkah Sistematis Menyiapkan Aqiqah yang Berkah
Memilih Kambing Aqiqah Sesuai Syariat
Agar aqiqah sah dan berkah, pemilihan hewan harus dilakukan dengan teliti. Syaratnya hampir sama dengan hewan qurban: harus cukup umur (minimal satu tahun untuk kambing atau enam bulan untuk domba), sehat, tidak cacat (tidak buta, tidak pincang, tidak kurus kering), serta dimiliki dengan cara yang halal.
Untuk anak laki-laki, disunnahkan menyembelih dua ekor kambing, sedangkan untuk anak perempuan cukup satu ekor. Namun, jika orang tua hanya mampu satu ekor untuk anak laki-laki, hal itu tetap dianggap sah dan sudah mendapatkan pahala kesunnahan. Pilihlah hewan yang terbaik sesuai kemampuan finansial Anda sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah ini.
Menentukan Jasa Layanan Aqiqah Terpercaya
Di zaman sekarang, Anda tidak perlu repot menyembelih dan memasak sendiri. Menggunakan jasa layanan aqiqah profesional adalah pilihan cerdas agar prosesi berjalan lebih lancar dan praktis. Pastikan Anda memilih penyedia jasa yang transparan, mengizinkan Anda melihat proses penyembelihan (atau memberikan dokumentasi video), dan memiliki sertifikasi halal yang jelas.
Layanan aqiqah yang baik biasanya menawarkan berbagai pilihan menu masakan yang lezat dan higienis. Mereka juga sering kali membantu mendistribusikan masakan kepada panti asuhan atau yayasan sosial jika Anda memintanya. Hal ini sangat membantu bagi orang tua yang sibuk namun tetap ingin memastikan ibadah aqiqah anaknya terlaksana dengan sempurna.
Mengelola Distribusi Masakan Aqiqah
Berbeda dengan qurban yang dagingnya dibagikan mentah, daging aqiqah disunnahkan dibagikan dalam kondisi sudah matang. Hal ini bertujuan untuk memudahkan orang yang menerimanya sehingga mereka tinggal menikmatinya saja. Mengundang tetangga, kerabat, dan fakir miskin untuk makan bersama adalah cara terbaik untuk merayakan kehadiran anggota keluarga baru.
Pastikan distribusi dilakukan secara merata dan tepat sasaran. Berikan porsi terbaik untuk mereka yang benar-benar membutuhkan. Dengan berbagi kebahagiaan melalui hidangan aqiqah yang lezat, Anda sebenarnya sedang menanam benih kasih sayang di hati orang-orang sekitar untuk anak Anda. Inilah esensi sejati dari ibadah yang membawa keberkahan bagi lingkungan.
Kesimpulan
Menentukan antara aqiqah atau qurban duluan bukanlah tentang mana yang lebih benar, melainkan mana yang lebih tepat sesuai kondisi dan tuntunan waktu. Berdasarkan mayoritas pendapat ulama, mendahulukan qurban saat Idul Adha adalah langkah yang lebih bijak karena waktunya yang sangat terbatas. Sementara itu, aqiqah dapat dilakukan setelahnya tanpa mengurangi nilai kesunnahannya, mengingat rentang waktunya yang sangat fleksibel.
Kunci utama dalam menjalankan ibadah ini adalah niat yang tulus, perencanaan keuangan yang matang, dan ketaatan pada syariat. Jangan biarkan keraguan menghambat Anda untuk meraih pahala. Baik aqiqah maupun qurban adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan perlindungan spiritual bagi keluarga. Dengan memahami skala prioritas ini, Anda bisa melangkah dengan tenang, mantap, dan penuh keberkahan.
Sebagai tips praktis, bagi Anda yang memiliki anak yang belum diaqiqahi dan saat ini memasuki bulan Dzulhijjah, fokuslah pada qurban terlebih dahulu jika dana terbatas. Setelah itu, mulailah menabung kembali untuk aqiqah di bulan-bulan berikutnya. Jika Anda memiliki kelapangan rezeki, melaksanakan keduanya secara terpisah adalah pilihan paling utama (afdhal) yang akan mendatangkan kebahagiaan berlipat ganda bagi keluarga dan sesama.